Resiliensi Masyarakat Desa Teluk Rumbia Dalam Menghadapi Bencana Banjir
Abstrak
AbstrakResiliensi merupakan kemampuan individu, komunitas, atau kelompok dalam beradaptasi terhadap guncangan atau bencana, menyesuaikan diri, serta bangkit kembali setelah mengalami dampak tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat ketahanan masyarakat Desa Teluk Rumbia, Kabupaten Aceh Singkil terhadap bencana banjir yang kerap terjadi. Penelitian ini menggunakan teori resiliensi yang dikemukakan Susan L. Cutter, menekankan pentingnya interaksi antara kapasitas sosial, ekonomi, dan fisik dalam menentukan kemampuan komunitas menghadapi bencana. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Teluk Rumbia telah mengembangkan berbagai strategi adaptasi seperti : Membangun rumah panggung, memanfaatkan transportasi air saat banjir, serta mengandalkan pengetahuan lokal dalam membaca tanda-tanda alam. Strategi adaptasi tersebut tidak terlepas dari ikatan solidaritas sosial yang melekat sesama warga Desa. Ikatan solidaritas sosial yang terjalin pada masyarakat Desa Teluk Rumbia didasarkan pada ikatan kekerabatan, keterikatan adat dan budaya, serta senasib sepenanggungan dalam kehidupan.
Abstract
Resilience is the ability of individuals, communities, or groups to adapt to shocks or disasters, adjust, and bounce back after experiencing their impact. This research aims to determine the level of resilience of the community in Teluk Rumbia Village, Aceh Singkil Regency, to the frequent flood disasters. This research utilizes the resilience theory proposed by Susan L. Cutter, emphasizing the importance of the interaction between social, economic, and physical capacities in determining a community's ability to cope with disasters. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques including observation, documentation, and in-depth interviews. The research results show that the community of Teluk Rumbia Village has developed various adaptation strategies such as: building stilt houses, utilizing water transportation during floods, and relying on local knowledge to read natural signs. This adaptation strategy is inseparable from the strong social solidarity among the village residents. The social solidarity bonds that exist in the Teluk Rumbia village community are based on kinship ties, attachment to customs and culture, and shared experiences in life.

















